Hari ini kugegaskan langkah kaki menelusuri jalan ini lagi, jalan yang membawaku menuju berbagai kisah dalam hidup. Ada yang menyenangkan dan beberapa terkadang membuat gerimis dipipi, tapi tak mengapa namanya juga hidup.
Hari ini aku sendiri, 3 bocil yang biasa bergelayut manja sedang asyik bersama ayahnya. Ini adalah saat yang tepat untuk mempersingkat waktu dan meminimalisir keriwehan yang terjadi, karena belanja yang biasanya hanya butuh waktu 5 menit bisan menjadi 20 menit bahkan lebih, yaah balada emak-emak.
Waktu berjalan cepat, aku seorang ibu dari 3 anak sekarang. Mereka bernama Syita, Bimo, dan Basuseno. Mereka adalah anak yang luar biasa lincah, saking lincahnya tak jarang membuat harus menghela nafas beberapa kali, beristighfar banyak banyak agar emosi tak sampai keubun ubun dan lisan tak mengeluarkan kata yang akhirnya kusesali karena melukai hati mereka.
Ini memang tidak mudah, terkadang aku merasa lelah menghadapi mereka. Rebutan mainan, rebutan TV, perang perangan yang ujung ujung nya jadi perang beneran, dan menangislah pihak yang merasa tersakiti, lalu mama datang, menengahi dan akhirnya berbaikan, begitu seterusnya. Namun ada saatnya aku tidak ingin masuk kedalam pertengkaran mereka, biarkan mereka belajar untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, berdiplomasi, dan bermaafan kembali.
Ada juga saat dimana mereka bersikap saat manis, kakak syita misalnya ia bercerita bahwa saat tabungannya telah penuh ia akan membelikan baju untukku... Ada haru yang menyelimuti ku, alhamdulillah syukur kuucap kepadaNya. Ia ingat pada mamanya.
Sinar mentari pagi menerobos dedaunan yang menguning, beberapa telah gugur tertiup angin. Aku berandai bahwa aku berjalan dijalanan musim gugur di suatu negara 4 musim, katakanlah Korea... Oh tidak, aku telah menjadi emak emak korban drakor. Pasti sangat menyenangkan
Lalu aku ingin menekan tombol rewind sejenak, saat pagi hari belum sehiruk pikuk sekarang, saat kami masih mempunyai pillow talk tanpa harus tergaget melihat jam telah menunjukkan 6 pagi. Dan kami masih bisa ngeteh berdua di rooftoo. Ah apa kabarnya rooftop? Sesuatu yang masih kami perjuangankan sampai sekarang.
Dan suara panggilan si bungsu membuatku tersadar dan kupercepat langkahku.. Begitulah pagiku.
