Pagi ini hujan mulai turun, hujan pertama di bulan Juli. Pantas saja tidurku semakin nyenyak, gak sadar kalau aku berkali-kali menekan tombol snooze saat alaramku berbunyi. Soal dinginnya jangan ditanya lagi, 2 sampai 3 kali lipat dari biasanya. Benar-benar cuaca yang mendukung untuk kembali menarik selimut dan memeluk guling. Aku kerjap-kerjapkan mataku, jam ternyata uda nunjukin angka 6, sama artinya masih jam setengah 6 pagi, Jamku disetting setengah jam lebih cepat dari waktu sebenarnya, maklum jam sekolah biar tetap ada waktu kalau kesiangan gini.
Semua aktivitas pagi sudah dilakukan, tinggal siap-siap dan menunggu jemputan. Udah jam 8 tapi belum juga datang, menunggulah sambil menikmati panorama pagi, diluar gerimis ternyata. Apa kabarnya hujan? aku adalah penyukamu, saat engkau menyapaku aku selalu merasakan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan, begitu halus. Taukah engkau kenapa aku menyukaimu? Aku tidak perlu menyembunyikan tangisku saat engkau turun, semua menyatu jatuh ke tanah. Hanya Kau dan Aku juga Dia yang tahu.
Ah.....itu, dia sudah datang, saatnya berangkat. Aku bersiap-siap duduk diboncengannya.
" Kapan ya bisa punya P****o, kalu hujan gini gak perlu takut kehujanan " katanya.
" Maunya kapan ? " Aku balik tanya,
" Naik motor kan kehujanan .... "
" Bukankah itulah seninya ? ..... tetap bisa merasakan hujan ". Kataku
" Iya, tapi kalau tiap hari gini bukan seni namanya ". Ia menjawab sekenanya
" Hahahaha...... iyaaaaa, bener, " Dan kamipun tertawa bersama.
Saatnya berangkat, memulai kembali beraktivitas. Ditemani rintik hujan dan dinginya pagi
# Kalau setiap pagi ada tawa seperti ini, sedingin apapun sepertinya akan terasa hangat
Hujan
Hari selepas hujan itu indah ...
Aku suka bau tanahnya
Aku suka ranting-ranting yang basah setelahnya
Aku suka kesegaran setelahnya
Aku suka jalanan yang tak berdebu selepasnya
Dan kuncup-kuncup bunga yang mulai bermekaran keesokan paginya
Hujan .....
Selalu mengingatkanku tentang sesuatu