" Kapan lebaran? Apa kemarin itu lebaran? Lebaran baru tahun depan. "
Ya, Lebaran untuk kita mungkin memang baru tahun depan.
Hatiku tersayat tiap ku ingat perkataan itu, miris rasanya. Ungkapan yang menyiratkan kekecewaan, dan aku tahu penyebabnya. Semua salahku.
Lebaran lalu adalah saat yang kami nanti-nantikan,karena ini adalah lebaran pertama kami, beberapa rencana telah kami buat. Belanja bersama, shalat Idul Fitri,berkunjung ke rumah keluarga masing-masing, dan yang paling penting Sungkem sama Orang tua. Aku tersenyum membayangkan semua yang akan kami lakukan, akan sangat menyenangkan pastinya. Pergi di hari terakhir puasa dan berkeliling sekitar alun-alun kota, sibuk memilih semua keperluan untuk lebaran, dan terakhir membeli sepasang ikan mas. Kemudian esok hari kami akan menjalankan shalat Idul Fitri bersama. Terbayang olehku bagaimana dirinya dalam balutan koko putih berjalan menuju masjid dengan sajadah di pundaknya yang tersampir. Ia menggelar sajadahnya di barisan paling depan, dan merapatkan shaf kemudian shalat dimulai. Berkumpul bersama orang-orang tercinta di hari nan Fitri adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri. Dan yang paling membuat kami harap-harap cemas saat Sungkem ke rumah Orangtua & keluarga kami. Ini adalah pertama kalinya ia akan datang ke rumah, bertemu dengan kedua orang tuaku bukan lagi sebagai teman biasa, namun sebagai seorang pria dewasa yang kelak kelak akan bertanggung jawab menjagaku, putri tercinta mereka. Dan di hari yang sama, aku akan berdandan secantik-cantiknya, berusahan tampil anggun saat ia membawaku kerumahnya, Sungkem kepada kedua orang tuanya dan memperkenalkanku kepada keluarga besarnya sebagai calon makmumnya kelak. Betapa bahagianya.
Namun terkadang kenyataan tidak seperti apa yang kita bayangkan,